Belajar Ngupi. (5/1/2016)

Dokter udah ngevonis saya sebagai penyandang Gastritis Kronik.

Artinya, saya punya maag akut. Lambung udah luka dan jadinya intoleran ke segala makanan/minuman yang asam, pedas, atau nano-nano. Kalau nekad ngekonsumsi, asam lambung bakal naik dan ujung-ujungnya kepala pening, mual-mual dan badan lunglai. Makanya, ga perlu pake fatwa MUI, Kopi itu haram hukumnya buat saya. Udah tahunan saya nggak pernah minum kopi. Udah kapok.

Tapi semua berubah sejak negara api menyerang. Kemarin pas pulang kampung ke Temanggung, bos Kornel dan Mas Iman – temen kantor – nitip dibawain kopi khas Temanggung. Dan harus yang masih bijian. Alkisah, kopi dari kampung saya ini lumayan ngehits di jagad perkopian, punya taste yang unik dan termasuk jenis kopi yang paling banyak beredar di pulau Jawa.

kopi-jowo-sip-25-816-x-6121.jpg
Kopi Temanggung, produksi kebon Pak Mukidi. Gambar dicomot dari mukidi.wordpress.com

Kopi Temanggung biasanya ditanem di lereng Sumbing dan Sindoro: si gunung kembar yang penampakannya mirip stereotype gambar pemandangan anak SD. Kopi di sini juga masih termasuk komoditas tradisional. Jadi jangan harap ada outlet modern macem Setarbak yang jual kopi bijian. Kalau mau kopi bijian yang harus hunting ke petani langsung. Atau kalau rejeki, bisa datang di acara Festival Kopi Temanggung, kaya yang kemarin saya datengin.

membuat_brand_lokal_dalam_festival_kopi_temanggung-top.jpg
Festival Kopi Temanggung (25/12/2015), menghadirkan Gubernur Ganjar dan artis ibukota. Gambar dicomot dari majalahkartini.co.id

 

Dari proses hunting perbijian inilah saya ketemu Mas Yudi, petani kopi ciamik dari Kuwadungan Jurang. Dia bukan barista, tapi dia paham soal rasa dan filosofi kopi. Mas Yudi berujar, “rasa dan aroma kopi itu otentik, tergantung daerah kopi itu ditanam, spesies kopi, tanaman apa yang ditanam di sekitar kopi, cara roasting, termasuk siapa yang nanem mas”. Sungguh mulia penjelasanmu Mas. Akhirnya saya ceritain problem maag saya, dan Mas Yudi meyakinkan: “Mas, kopi itu nggak akan bikin maag kalau cara minumnya bener”. Lalu berkhotbah soal cara minum kopi ke saya. Tak lupa, dia juga duduk di antara dua khotbah untuk memberi kesempatan jamaah memanjaatkan doa.

Karena pemasaran yang bikin penasaran ala Mas Yudi, begitu nyampe Jakarta, kopi Temanggung yang harusnya buat oleh-oleh jadinya saya palakin, alias diambil dikit buat dicobain sendiri :p. Berbekal alat giling kopi di kantor, jadilah seduhan kopi Arabica dari daerah Kuwadungan Gunung. Pas nyobain rasanya takut-takut, kuatir asam lambung naik. Tapi berbekal wejangan Mas Yudi, saya nekad aja.

Hasilnya: Kopi Temanggung yang saya minum udah aromanya kuat, enak banget, rasanya asem-asem bikin merinding, after tastenya kuat, dan akhirnya bikin saya tambah penasaran sama kopi. Yang bikin hepi: nggak ada efek samping babar blas (red: sama sekali). Dua hari berikutnya, saya nyobain bikin kopi dari lereng Sindoro, tetep pake tipsnya Mas Yudi. No side effect dan akhirnya bikin tambah gembira.

Hari ini saya nongkrong di warkop di apartemen. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, saya mesen kopi item. Kali ini yang dipesen adalah Arabica, Sumatera Lintong. Plus saya nyicipin kopi Gayo yang dipesen temen. Buat saya, taste Gayo yang asem dan fruitful lebih cocok sama selera. Tapi yang lebih penting: tetep nggak ada efek samping sama sekali. Saya sehat walafiat. Akhirnya saya tersadar kalau harta yang paling berharga adalah …… kesehatan (keluarga juga sih, kalau kata Abah).

20160124015925
Kopi Temanggung, produksi kebon Pak Mukidi. Gambar dicomot dari mukidi.wordpress.com

Habis test drive berbagai macam kopi saya jadi paham kenapa kopi itu disebut “the wine of Moslem”. Kopi itu nikmat, bikin nagih, tapi tetep halal. Plus filosofi dan cara minumnya juga seringgit dua ringgit lah sama wine (maksa!).

Jadi, sejak hari ini, saya sudah cabut fatwa haram ke kopi. Palu sudah diketok bahwa saya akan mulai belajar minum kopi. At least mulai belajar jenis-jenisnya plus belajar “ngerasain” bedanya kopi satu sama kopi lain. Dan tetep, saya bakal pegang nasehatnya Mas Yudi buat nikmatin kopi with less side effect:

  • Pertama, pilih kopi spesies Arabica. Pas nyampe mulut, kopi ini punya taste yang lebih asam ketimbang spesies Robusta. Tapi pas nyampe perut, efek ke asam lambung jauh lebih rendah karena kadar kafeinnya juga rendah.
  • Kedua, makan dulu sebelum minum kopi. Jadi kalaupun asam lambung menggelinjang, at least udah ada makanan yang jadi benteng takeshi.
  • Ketiga, minum kopinya dibawa nyantai biar lambung ga kelojotan. Jangan kaya sapi lagi digelonggong. Sruput pelan-pelan, buat kumur-kumur di mulut macem bangsawan lagi minum wine sambil ngeliat budak-budak ngebangun piramida. Nikmati after-tastenya, rasain asem-asemnya. Kalau ada rasa pedes dikit, mungkin itu karena ada kulit cabe nyangkut di gigi.
  • Keempat, Mas Tani bilang, “Mas kalau minum kopi sachet ya lain cerita. Wong itu bukan kopi, makanya jadi maag”. Bener juga sih, kalau liat kopi sachet, udah kebanyakan ingredients yang aneh-aneh dan berbahan kimia. Apalagi Luwek White Koffie. Jadi supaya aman, pastiin minum kopi yang bijinya berkualitas dan organic. Sekalian turut serta dalam program penyejahteraan petani kopi endonesah.
  • Kelima, cari kopi yang sesuai sama selera. Yang tastenya pas sama ideologi ekonomi dan keyakinan kita. Yang cocok sama pilihan hati dan bikin kita bilang “nah, ini dia jodohku”. Jadi, at least tetep puas dan ga nyesel-nyesel amat kalau ujung maag kita tetep kumat. Hahaha

Jadi, buat mas dan mbak yang punya maag, jangan lagi takut ngopi. Tips dari Mas Yudi di atas udah manjur banget buat saya. Padahal maag saya ini lumayan kronis, at least dua hari sekali pasti kumat. Saya sendiri jadi bahagia gegap gempita karena akhirnya bisa nyicipin kopi lagi. Ini ibaratnya kaya lagi maen game RPG: levelnya naik dan akhirnya siap masuk ke dungeon berbahaya buat menjajal petualangan baru.

Banyak temen-temen saya yang penikmat kopi, jadi siapa tahu gara-gara kopi ini jadi saya bisa mempererat persaudaraan dan silaturahmi. Konon katanya, kopi juga baik buat pencernaan dan peredaran darah, plus ngebakar lemak. Jadi siapa tau habis ini jadwal badminton dan renang bisa saya tuker pake jadwal ngopi-ngopi cantik.

Yaudah lah, pokoknya yuk belajar ngopi. Yang sakit maag, ayok dijajal. Kalau cocok, kita bicarakan lagi kedepannya bakal gimana.

 

PS: Tips ini manjur buat saya. Kalau nggak manjur buat anda, mungkin kita tuh beda dan nggak mungkin disatuin.

Advertisements

Driving in the US: Just a boring tips and trick

New Image

Picture: Lokasi di US yang lebih mudah diakses dengan kendaraan pribadi. Clockwise: Washington Mountain – NH, Morrison Spring – FL, Big Bend National Park – TX, dan Whitesands Monument – NM.

Dua minggu lalu, saya baru nyelesaiin the longest driving errand yang pernah saya jalanin: 5.540 KM in 6 days trip. Jelas ini masih nggak ada apa-apanya ketimbang hardcore road-tripper yang bisa nyetir berbulan-bulan dan ribuan mile jauhnya. Tapi dari pengalaman nyetir sejauh itu, saya semakin suka nyetir mobil sendiri. Apalagi di US, nyetir mobil memang sudah jadi habit dan culture orang sini, jadi segala fasilitas nyetir dan jalanan sudah sangat-sangat memadai. Selain itu, ada beberapa factor yang bikin nyetir mobil sendiri di Amerika lebih menyenangkan ketimbang pake transportasi umum:

  1. Interstate Highway!!

Amerika, selain the land of the freedom, ternyata juga the land of the freeway. And interstate is the mother monster of every single freeway on earth! Interstate di US menghubungkan ke 49 mainland states dengan sangat efisien dan benar-benar bebas hambatan. Umumnya, interstate sangat luuuurrruuuus dan luuuuaaaaas. Sangking lurusnya, kita bisa atur kecepatan dengan cruise control, luruskan setir mobil, kaki dinaikkan lalu makan ayam penyet pake tangan di dalam mobil (serius pernah). Mayoritas jalur ini punya speed limit 70-80 mile / hour. Jadi normalnya, jarak sekitar 300 mil bisa ditempuh hanya dalam waktu sekitar 4 jam, atau sekitar 3 kali lebih cepat disbanding jarak yang sama di Indonesia. Ini bikin perjalanan kita lebih nyaman, gampang dan cepat.

  1. Discover the real Magnificent America

Transportasi umum di US baik dalam kota, antar kota, atau antar negara bagian sudah sangat mumpuni (subway, bis, kereta, pesawat). Tapi sayangnya, transportasi umum ini kadang tidak menjangkau lokasi-lokasi wisata (khususnya wisata alam) yang paling menarik. Misalnya, banyak National Park (seperti Big Bend, Washington Mountain, Whitesand, Crystal River etc) yang tidak dilalui jalur transportasi umum. Buat yang nggak pingin ngliat yang itu-itu saja, nggak terlalu suka sama kota atau pecinta natural wonders seperti saya, driving is so much preferable.

  1. Scenic Drives

Banyak banget lokasi di US, terutama antar negara bagian yang termasuk Scenic Drive alias jalur yang pemandangannya bagus. Beberapa contoh adalah rute Lincoln Forest di New Mexico, Pacific Coast di California, Patchwork Pathway di Utah, dan lain sebagainya. Scenic drives paling popular ada di link berikut ini http://adventure.howstuffworks.com/10-beautiful-drives.htm#page=0

  1. Boon-Docking

Adalah aktivitas bermalam di dalam mobil. Selain irit karena nggak perlu sewa hostel atau cari tumpangan, bermalam di mobil juga bikin perjalanan kita lebih fleksibel. Tapi di US, kita nggak bisa sembarangan parkir lalu numpang bobok. Selain bisa disamperin Pak Polisi, aturan parkir di US cukup rumit dan mayoritas public parking itu berbayar. Tapi ada tempat-tempat yang bisa di”tiduri” gratis dan memang sudah cukup common seperti: Parkiran Wallmart, Camping Ground, Residential Parking Area, Rest Area dan lain-lain. Yang penting cari tempat yang aman, dan kalau bisa ada teman sesame boon-dockers. Saya pernah bermalam 2 hari di parkiran Walmart di Portland, Maine. Enak sih, bangun tidur kuterus (pura-pura) belanja pisang, lalu numpang sikat gigi, BAB, cuci muka dan mandi Bebek.

PS: saya pilih Walmart juga karena konon banyak rest area dan camping ground yang angker, apalagi saya sendirian. Ogah juga disamperin kuntilanak yang bilang: “Mr Bokir, beef skewer 100 pieces please” (Bang Bokir, satenya seratus tusuk bang)

Karena banyak kelebihan inilah, saya sangat sarankan buat anda yang mau travelling atau roadtrip untuk nyetir mobil sendiri. Tentu ada soal biaya yang harus dipikirkan, tapi kalau kita pergi berombongan, nyetir mobil bisa jadi opsi yang nggak kalah efisien dibanding transportasi umum. Dan supaya nyetir kita aman, nyaman, tentram, sentosa, berikut ini tips-tips kalau mau nyetir di US, atau mungkin berlaku juga di negara-negara lain. Tips saya tulis berdasarkan penglaman pribadi, cukup general, tapi siapa tau bisa membantu para traveler yang gundah gulana.

Jadi, apa aja tips buat nyetir di US:

  1. SIM

Kalau ada Rukun Nyetir, ini mungkin nomer urut Wahid! Jangan sampai kita dapet criminal records gara-gara ga ada SIM. Ada 3 opsi SIM yang bisa ditempuh. Pertama, bisa pake SIM A Indonesia seperti biasa, tapi siapkan juga translasinya. Beberapa state mengakui sistem ini selama kita belum lebih dari 60 hari tinggal di US. Kedua, kita bisa bikin SIM internasional di Kantor Polisi. SIM ini bentuknya kaya paspor, isinya ada berbagai translasi dari SIM Indonesia kita. Bayar 250 ribu, 30 menit selesai, masa berlaku 4 tahun kalau nggak salah. Prosedurnya ada di http://ntmc-korlantaspolri.blogspot.com/2012/06/sim-internasional.html. Tapi harus cek dulu apakah negara bagian (atau negara tujuan) mengakui SIM ini atau tidak.

Opsi yang ketiga, untuk periode tinggal yang relative panjang, bikin aja SIM Amerika. Ini juga sebenarnya sangat-sangat saya sarankan. Kenapa? Karena SIM juga berlaku sebagai Government Issued ID yang bisa dipakai untuk berbagai keperluan, termasuk kalau mau beli mobil di US kita harus punya SIM dulu sebelum balik nama. Bikin SIM di US juga relatif simple, nggak perlu acara “nitip” pak polisi yang terhormat. It’s a fair and square process.

Selengkapnya tentang tips bikin SIM ada di sini https://adityawiras.wordpress.com/2015/01/19/tips-bikin-sim-di-us/?preview_id=114 .

  1. Ethics is the ultimate rule

Iya, sampean akan nyetir di jalur kanan. Kikuk itu wajar. Iya aturannya juga lebih strict. Awal-awal nglanggar juga lumrah. Asal jangan keterusan. Aturan di sini memang banyak, misalnya STOP sign yang artinya kita benar-benar harus full-stop, kanan jalan terus, yield to pedestrian dll. Tapi di atas seluruh aturan itu semua, yang terpenting adalah mayoritas orang di sini sangat patuh pada aturan itu. Jadi akan aneh dan janggal kalau kita ngelanggar, seolah-olah kita benar-benar jadi “alien” dan orang-orang akan nyinyir ngeliatin kita. Kalau di Indonesia, klakson bunyi itu wajar. Tapi di sini, klakson bunyi artinya sampean sudah keterlaluan and need to drive more carefully. So, strict to the rules and drive in a good manner.

Khusus untuk aturan speed limit, kita masih wajar kalau nyetir 10 mph di atas speed limit. Misalnya kalau speed limitnya 65, nggak papa lah kita nyetir di 74 mph. Insya Allah nggak bakal distop terus ditanyain “Bisa lihat surat-suratnya?”

  1. Rental mobil

Banyak banget opsi rental mobil, tapi so far yang harganya menurut saya paling masuk akal adalah “Budget”. Ini adalah versi low costnya “Avis” jadi soal kualitas gak perlu diragukan. Kalau sampean pelajar, cek juga kalau ada program kerjasama antara kampus dengan rental mobil (biasanya dalam bentuk promo code atau corporate code). Lumayan ngirit.

  1. AAA Membership

Jadi member American Automotive Association juga nggak ada ruginya. AAA punya banyak fasilitas seperti diskon masuk ke berbagai tempat wisata, restoran, rental mobil dan lain-lain. AAA juga menyediakan fasilitas Road Side Assistance kalau-kalau kita punya problem pas di perjalanan. Biaya membershipnya tergantung paket apa aja yang kita pingin.

  1. GPS adalah kawan kita

GPS, google map, Siri, Si Mbok atau apapun penting untuk bantu navigasi kita. Apalagi kalau lewat highway karena kalau kita salah jalur, muternya bisa jauuuh banget. Apalagi di highway orang cenderung akan nyetir kenceng, bikin kita tambah susah bikin gerakan yang tiba-tiba tak terduga tak dinyana.

  1. Winter Check!

Ini standard sih. Just a warning if you want to drive in the winter. Ati-ati dengan yang namanya freezing rain (karena dalam sepersekian detik bisa bikin kaca mobil kita ketutup es) (I’ve had this once). Ati-ati juga dengan icy roads karena bisa bikin mobil kita tergelincir tak tentu arah laksana tetelan daging dalam semangkok bakso. Sebelum berpergian, sebaiknya cek kondisi jalan via website-website seperti ini (http://www.navbug.com/traffic_conditions_on/texas/i-10.htm). Pelajari juga perakiraan cuaca dan dampaknya ke kondisi jalan. Plus, siapkan anti-freeze atau coolant liquid yang memadai.

Well I think that’s all I can share. Kalau ada yang punya tips dan trick silahkan dishare ya.

Cheers!

Tips Bikin SIM di US

  1. Siapkan dokumen: SIM Indonesia + Translasi, Paspor, VISA, Ijin Tinggal (I-20, DS dan semacamnya), Social Security Number (atau ineligibility letter kalau nggak punya SSN). Selengkapnya bisa googling aturan di masing-masing state.
  2. Sangat penting: pengemudi yang nggak punya SIM Indonesia diharuskan ikut les nyetir (driving lesson) selama 36 hours. Hindari! Biayanya muaahaal banget.
  3. Pelajari dulu aturan nyetir di US (petunjuk jalan, aturan right of way, dan lain-lain). Ini harus belajar beneran, karena ribet dan saklek. Ini penting supaya bisa lolos written test nya. Lalu kalau perlu lihat video di youtube tentang how to pass a road test.
  4. Datang ke Office of Motor Vehicle (OMV) terjauh. Mengapa terjauh? Karena supaya antriannya pendek, kalau cari yang dekat kota, kita bisa antri minimal 4 jam hanya untuk satu urusan. Mending cari yang berjarak sekitar 40 menit dari kota besar.
  5. Begitu sampai di OMV, ada dua kemungkinan: kita bisa langsung tes tertulis dan road test, atau kita cuma test tertulis, lalu menjadwalkan road test di hari yang lain. Manapun yang kita alami, syukuri lah. Yang penting udah ada progress.
  6. Ikuti test tertulis. Kalau nggak lolos, coba lagi, jangan menyerah. Kita dikasih kesempatan coba terus sampai kantornya tutup.
  7. Ikuti road test. Ini kita harus bawa mobil sendiri karena OMV nggak nyediain mobil (apalagi odong-odong).
  8. Kalau sudah lolos test tertulis dan road testnya, tinggal foto, lalu bayar $25 kalau nggak salah.

Voila, you’re ready to drive! Eh mobilnya mana tapi.

MENGENAL PETRODOLLAR

https://www.opensecrets.org/news/reports/oilgas.php
https://www.opensecrets.org/news/reports/oilgas.php

Meninggalnya CEO Total, Christophe de Margerie akibat kecelakaan pesawat (20/10) tak hanya mengguncang dunia migas internasional, namun juga berhasil mempopulerkan kembali istilah Petrodollar. Apa sebenarnya Petrodollar itu?

Sejumlah media internasional (dan pecinta teori konsipirasi) mengaitkan kecelakaan jet pribadi de Margerie dengan sikapnya yang kontra terhadap sistem Petrodollar, yaitu skema transaksi minyak yang mewajibkan transaksi dilakukan mata uang Dollar AS. Sebelumnya, de Margerie secara terbuka menginginkan agar transaksi migas bisa dilakukan dengan mata uang Euro. “Nothing prevents anyone from paying for oil in Euro,” tutur de Margerie sebagaimana dilansir Bloomberg (05/07)[1].

Istilah Petrodollar mulai popular sejak decade 70-an, meskipun sebenarnya Dollar Amerika sudah digunakan sebagai alat transaksi minyak jauh sejak tahun 1940-an atau paska Perang Dunia II. Tingginya impor minyak Amerika pada saat itu membuat negara eksportir minyak menerima pembayaran transaksi menggunakan mata uang Dollar Amerika. Namun penggunaan Dollar Amerika masih terbatas antara AS dengan negara eksportir saja.

Skema Petrodollar meluas ketika pada tahun 1973, Presiden Amerika Richard B. Nixon melakukan negosiasi dengan Arab Saudi sebagai produsen minyak terbesar di dunia.[2] Proposal Nixon pada intinya meminta Arab Saudi untuk mewajibkan jual-beli minyak antara Saudi dengan negara importir dilakukan dengan Dollar Amerika. Sebagai gantinya, Amerika menawarkan perlindungan keamanan bagi Saudi melalui penyediaan militer dan senjata. Pada saat itu, kawasan timur tengah memang tengah panas akibat gesekan-gesekan antara Mesir, Israel dan Syria (yang berujung pada Perang Yom Kippur 1973).

Di sisi lain, negosiasi yang dilakukan Nixon bukan tanpa sebab. Tahun 1971 Nixon baru saja membuat kebijakan “closing the gold window” di mana nilai Dollar AS tidak lagi divaluasi berdasarkan nilai tukar Dollar Amerika terhadap emas yang mengakibatkan Dollar tidak dapat dipertukarkan dengan emas maupun logam mulia lain milik pemerintah Amerika. Sebagaimana ditulis Morgan Downey dalam Oil 101, “The purchasing power of the US Dollar, which was and is the default currency for oil transactions, declined rapidly”. Pada 15 Agustus 1971 Nixon menyatakan “we will press for the necessary reforms to set up an urgently needed new international monetary system[3]. Dari sinilah inisiasi Petrodollar dimulai.

Dengan pertukaran kepentingan Amerika-Saudi, proposal Petrodollar akhirnya disetujui. Pada tahun 1974 Petrodollar berlaku penuh di Saudi dan tahun 1975, negara-negara OPEC mengikuti[4]. Mulai saat itu negara importir minyak mulai harus berburu Dollar Amerika guna membeli minyak dari negara eksportir. Dengan permintaan yang meningkat, nilai Dollar Amerika yang sempat menurun akibat kebijakan Nixon berangsur pulih.

Dollar Amerika pun menjadi mata uang yang valuasinya bergantung pada supply-demand minyak dunia. Maka semakin banyak transaksi minyak terjadi antar negara OPEC dan importir, semakin kokoh pula posisi Dollar Amerika sebagai mata uang dunia. Hingga kini kita masih bisa melihat korelasi “supplementary good” antara harga minyak dengan Dollar AS, yaitu ketika harga minyak meningkat, maka nilai tukar Dollar Amerika cenderung melemah (karena menurunnya permintaan) dan sebaliknya.

Penulis buku Bankruptcy of Our Nation, Jerry Robinson menyatakan bahwa Petrodollar juga menguntungkan Amerika dalam hal impor minyak. AS dapat membeli minyak dengan harga yang lebih murah karena tak perlu ada biaya konversi mata uang yang perlu dibayarkan. “With oil priced in U.S. dollars, America can literally print money to buy oil,” pungkasnya[5].

Dampak Bagi Indonesia

Bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia, skema Petrodollar tentunya berdampak sangat signifikan terhadap kelancaran penyediaan energi. Sebagai gambaran, impor Premium nasional (Nov 2012) mencapai 11,6 juta barel atau rata-rata 1,84 juta barel per bulan. Dengan perhitungan harga minyak dunia berada di kisaran US$100 per barel, maka dibutuhkan valas kira-kira US$184 juta per bulan.[6]

Dapat dibayangkan bila nilai tukar rupiah melemah, maka akan semakin banyak Dollar Amerika yang dibutuhkan untuk melakukan transaksi. Apabila bank sentral maupun bank BUMN/Swasta di Indonesia tak dapat memenuhi kebutuhan valas tersebut, maka dikhawatirkan pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri akan terhambat.

Masa Depan Petrodollar

Kini setelah diterapkan selama lebih dari 30 tahun, banyak analis menduga kejayaan Petrodollar mulai pudar. Pasalnya banyak pihak (seperti de Margerie) yang mulai secara terbuka menentang system tersebut. Negara-negara importir/eksportir minyak yang tak terimbas perjanjian Petrodollar seperti Brazil, Russia, India dan China pun mulai merundingkan transaksi minyak dengan menggunakan mata uang lain seperti Euro (Petroeuro) atau bahkan mata uang mereka sendiri.

Nasib Petrodollar memang masih penuh tanda tanya. Namun kejatuhan rezim Petrodollar bukanlah suatu keniscayaan sebagaimana gold window pernah berjaya dan tumbang. Bisa jadi, apa yang terjadi di dunia ini hanyalah sejarah yang terus berulang.

[1] http://www.bloomberg.com/news/2014-07-05/total-s-de-margerie-sees-no-need-for-dollars-in-oil-purchases.html

[2] http://ftmdaily.com/preparing-for-the-collapse-of-the-petrodollar-part-2/

[3] http://www.forbes.com/sites/ralphbenko/2014/08/18/pat-buchanan-ignores-the-underlying-reason-richard-nixon-was-forced-to-resign/

[4] http://www.caseyresearch.com/cdd/demise-petrodollar

[5] http://ftmdaily.com/preparing-for-the-collapse-of-the-petrodollar-part-2/

[6] http://microsite.metrotvnews.com/metronews/read/2013/01/17/2/123642/Pertamina-Minta-Bank-Sentral-Sediakan-Valas

The MomenTo-Kyo

I was traveling to Tokyo with one of my boss recently. He was very formidable for his super-bad anger management, making this Tokyo travel nothing but a painful ride. It’s a common situation that he got so mad about things without any necessary reason, shouting at people without any faults made.

Actually, I have ever got experiences with people of that kind; those who cannot control their emotion, and sometimes, those who tend to disrespect people around him. To some extent, I can still accept those attitudes, but it somehow draws my attention to question about his past and himself. In my mind, flies a lot of inquiries that doesn’t need an answer, but will be interesting to figure out.

  • How’s his childhood? Is he a victim of bully perhaps? Has he any grudge to his past?
  • How are his parents? How was he raised? How was the interaction in family?
  • What kind of education does he get?

More than that Freudian question, my mind goes to deeper to his thoughts. I sympathized to his life, and even pitied his bad manner.

  • Why is he angry all the time? Can he just learn to contain?
  • What kind of personification is he trying to build?
  • What is behind his angry mask?

And most important: What is he trying to hide, beneath his wrath?

Elegi Teknologi

Image

Kita hanya sejarak 26 tuts alfabetikal.

Berimpit sempit  dengan layar rektangular.

Recent Updates mu pertanda kau masih ada.

Recent Updates ku, adalah morse bahwa aku di sini.

Kita tahu tali kita selalu tertambat. Tapi enggan rasanya berkabar sekelebat.

 

Semuanya lebih menarik ketika semua ini masih konvensional.

Aku menunggu warna hijau menyala di ujung kiri nama maya mu.

Jendela messenger begitu kunanti.

Hanya untuk bercakap, melepaskan kerinduan akan pertemanan, gelak dan tawa.

 

Aku menunggu kalian berkesah.

Ketika aku melontarkan hal yang taboo di kolom statusku.

Teks kita beradu. Pikiran kita bertemu. Dari situlah keajaiban-keajaiban terjadi.

 

Aku mengunggah gambar kita bersama.

Yang bisa kalian tandai sekenanya.

Mengajak orang untuk menikmati keindahan persahabatan kita yang nyata sekaligus maya.

 

Namun dunia kini semakin pintar. Di tanganmu adalah semesta.

Di tanganmu adalah kotak musik yang menyanyikan ocehanmu.

Di tanganmu adalah sulap yang membuatmu menjadi Maha Ada.

Di tanganmu adalah kekuatan legendaris. Konektivitas.

Dengan tanganmu, kau menjadi layaknya nabi dengan ribuan umat.

 

Dunia menjadi sempit. Sesempit pikiran kita.

Tak ada lagi ruang untuk rindu. Karena kita selalu bertemu.

Tak ada lagi pesan tak terbaca. Karena kita selalu ada.

Dan tak ada lagi relasi yang nyata. Karena maya adalah pengganti semesta.

 

Tak ada lagi rasa, yang menjadikan kita manusia seutuhnya.

DAVAO : KOTA RAMAH TANPA PERLU SUMRINGAH

Image
Smoke Free Davao, cukup ramah untuk saya yang tidak merokok. 🙂

“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang paling ramah” –

(Maaf), segera lupakan jargon ini begitu anda berkunjung ke Davao. Kota di Kepulauan Mindanao, Philippine bagian Selatan ini rupanya surplus “stok” keramahtamahan, jauh di atas Indonesia.

Saya, yang asli Jawa – identic dengan “mesam-mesem” dan “unggah-unguh” – pun merasa tersaingi begitu berinteraksi dengan penduduk Davao. Di Indonesia, orang asing akan disuguhkan senyuman. Selesai. Sementara di Davao, senyum lebar mungkin tak mudah tertebar, tapi coba bicaralah, dan anda akan menemukan orang-orang yang sangat terbuka, super helpful, dan tanpa pamrih.

Pengalaman itu saya rasakan ketika medio April, saya dan beberapa rekan melewatkan 4 hari di Davao. Awalnya kota ini terasa begitu asing bagi kami. Tapi begitu kami berinteraksi dengan warga kota, kami yakin trip ini akan menyenangkan dan mudah. Pasalnya, iklim kota ini sangat kondusif untuk orang asing. Nggak perlu kuatir “nyasar”, jambret, etc. Beberapa yang saya yakini membuat Kota ini sangat nyaman adalah :

Taksi dan Supirnya

Saya yakin semuanya setuju kalau kualitas taksi dan pengendaranya sangat menentukan kenyamanan, keamanan dan kesuksesan trip kita. Di Davao, semua prasyarat itu terkabul. Semua supir taksi yang kami temui tak hanya ramah, tapi juga fasih berbahasa Inggris. Mereka juga tak akan memutar-mutar rute (checked via GPS) seperti halnya di Jakarta. Dan, berapapun kembalian ongkos taksi, mereka akan mengembalikannya. Saya pernah kelebihan mulai dari 5 Peso (1 Peso = Rp 250,-), 10 Peso, sampai 40 Peso, semuanya dikembalikan. Supir taksinya nggak “tengil” dan nggak nipu. Aman.

Pelayanan Publiknya

Pernah nggak, anda ke supermarket dan bawa belanjaan yang lumayan banyak. Lalu anda minta kardus ke kasirnya. Tanggapan dari kasir atau petugasnya mungkin “hmm..nggak ada mas…”, atau “kalau nggak belanja di sini ya nggak bisa mas…”, atau “ada mas, satunya 10 ribu”. Di Davao, percaya atau tidak, ketika Rika, rekan saya (yang tidak belanja di supermarket itu) mau beli kardus ke kasir, tanggapannya adalah seperti ini : (Translate bebas Bahasa Inggris + Tagalog)

Rika                : Mas jual kardus gak?

Kasir              : Duh, kami nggak jual mbak. Butuh seberapa gede emangnya?

Rika                : Segini mas (sambil membuat gesture ukuran box)

Kasir              : Oh oke. Tunggu sebentar. (Langsung lari. Ya LARI ke gudang untuk carikan kardus.)

Satu menit kemudian, Kasir itu kembali, membawa Kardus + Tali Rafia + Gunting. Dan berujar “Mana mbak barangnya? Sekalian saya pack dan iketin.”

Saya dan teman-teman langsung bengong. Kami kan cuma mau beli kardus, barang juga ditinggal di hotel. Eh si masnya super proaktif dan helpful. Akhirnya kami jelaskan kalau kami nggak bawa barangnya, kardus + tali rafia pun diserahkan ke kami, semua gratis plus bonus senyum.

Kami juga menemukan pelayanan public lain yang super oke. Misalnya, Jojo seorang petugas hotel yang hampir setiap hari kami datangi untuk kami minta rekomendasi tempat makan / jalan, dan kami tanyai arah. Lalu seorang pramuniaga di Toko Merchandise yang setia mengikuti kami memilih barang, mendorongkan troli dan memberikan rekomendasi, bagus dan buruknya barang itu. Lalu Pawpaw, seorang tourist guide yang hapal sekitar 300 trivia quiz untuk memastikan penumpang bis tidak bosan dan tidak tidur.

Regulasinya

Kota ini diatur dan dikelola dengan rapi. Mungkin itu didukung beberapa regulasi seperti  :

  • Smoke Free Davao. Yak, merokok di tempat terbuka akan kena sanksi tegas.
  • Diskon 20% ongkos taksi dan beberapa layanan public untuk anak-anak dan orang tua.
  • Bisnis hilir migas di Phillippine sangat kompetitif di mana perusahaan migas Negeri dan Swasta dikelola secara fair. Pengelola dan jumlah SPBU sangat banyak dan beragam. Konsumen bebas pilih kualitas dan antrian panjang pun bisa dihindari.

Intinya, Davao menjanjikan pegalaman keramahtamahan yang berbeda. Yang tidak literal. Yang tidak identic dengan senyuman saja. Tapi lekat dengan ketulusan dan keingingan membantu. Mungkin kami tidak mendapat banyak senyuman di kota ini, tapi jelas kami meninggalkan kota ini dengan senyum lebar. Itu yang saya rasa belum bisa kita temukan di Indonesia.

Davao mungkin bukan kota yang sangat cantik, maju, atau modern. Tapi kenyamanannya memberi ruang tersendiri dalam memori kami.  Keceriaan Davao membekas setidaknya sampai kami tiba di Jakarta, sebelum kesan itu dihancurkan oleh Taksi Bandara (Ekspres) yang membawa kami ke Hotel di Jakpus. Yang memutar-mutarkan rute, menolak mendengar konsumen, dan sempat adu argument sengit dengan saya di tengah keheningan pukul 01.00 dini hari.

Yah, inilah keramahan negeri kita.