Tua Itu Apa Ya?

April 29, 2012

Akhir Maret, saya hadir melayat ayah atasan saya yang meninggal dunia. Ia adalah sosiolog terkemuka, Soelaeman Soemardi, yang usianya kalau tak salah sudah kepala 8. Di sela-sela suasana berkabung, saya cukup takjub mendapati bahwa sebelum berpulang, Pak Eman, panggilan akrab beliau, masih sempat menulis sebuah buku. Di usia senjanya, ia tetap produktif meski raut wajahnya (yang saya dapati di foto obituary) sudah tampak lelah dan penuh kerut.

 

Semangat Pak Eman untuk terus berkarya di satu sisi memotivasi, dan di sisi lain menggelitik pikiran saya, mendekonstruksi definisi kata ‘tua’, ‘sepuh’ hingga ‘uzur’. Kadang usia memang menjadi batasan, atau setidaknya pembenaran bagi seseorang untuk mulai mengerem aktifitas. Tapi bagi beberapa orang, menua-nya umur tak lain hanyalah metabolisme manusia biasa, yang justru semakin mematangkan pikiran untuk menghasilkan karya-karya yang lebih ciamik.

Sepanjang perjalanan pulang dari bilangan Pejaten sore itu, pikiran saya terbawa ke tahun 2005, saat saya dan rekan tengah mengerjakan tugas penulisan naskah film dokumenter untuk matakuliah sinematografi. Proposal naskah kami yang bertajuk “Keringat Usia Senja” mencoba mengangkat kisah para ‘senior’ yang penghujung usianya masih dialiri derasnya keringat untuk menghidupi keluarga. Objek kami bernama Pak Badi, seorang penambang pasir di Kali Krasak, Bantul, Jogjakarta.

Bagi kami, melihat Pak Badi menghabiskan kesehariannya mengarungi Kali Krasak, terpapar air sekaligus sinar terik matahari Jogja, adalah pemandangan yang cukup pilu. Di hari pertama riset lapangan, benak kami mempertanyakan “ini anak-anaknya kemana sih, kok bapaknya dibiarin kaya gitu”. Pikiran kami pragmatis saja, sudah tua ya istirahat, tak usah lah berlelah-lelah. Naluri kami mungkin terpengaruh reality show di TV yang tak jarang mengumbar kesusahpayahan orang tua, diiringi isak tangis dan soundtrack ‘You Rise Me Up’.

Hari berikutnya, kami beralih dari Kali Krasak ke Panti Jompo di wilayah Kauman Jogjakarta. Niat kami adalah mewawancarai kepala Panti Jompo dengan harapan ia akan mengamini postulat ‘orang tua = istirahat’ yang kami usung. Unfortunately fortunate, wawancara kami lancar, tapi dengan hasil yang sangat bertolak belakang dengan skenario yang sudah kami siapkan. Kepala Panti Jompo yang kami lupa namanya itu justru tegas menyatakan, “orang tua itu justru harus dikasih kegiatan, dikasih kerja, kalau nggak, ya beneran dia jadi tua’.

Argumentasi Pak Kepala Panti kami amini. Karena memang logikanya ya seperti itu. Saya dan kawan penulis naskah sadar bahwa kami lah yang salah. Kami mendatangi narasumber dengan agenda, dengan teori kami sendiri, dan mencari benang untuk mencocokkan teori kami dengan realita. Otak atik gathuk.

- – - – - – - – - – - – - – - – - -

Mobil Serena yang saya tumpangi sudah mencapai daerah Menteng saat memori saya sepenuhnya kembali ke masa kini, ketika kemudian saya nyeletuk dengan bodohnya di dalam mobil “tua itu apa ya?”. Dari yang saya ketahui tentang Pak Eman, dari Pak Badi yang masih menambang, bahkan dari ayah saya yang diusia 61 masih rajin angkat-angkat meubel dagangan, saya mendapati bahwa manusia menua adalah ketika berhenti beraktifitas. Sementara usia adalah bilangan yang sebagai patokan. Supaya gampang ngitungnya. Kiranya itulah postulat bodoh saya yang coba saya kemukakan.

Lalu saya melontarkan pertanyaan ke seorang teman, sebuah pop quiz yang rupanya cukup menggelitik pikirannya juga, dan sekarang akan saya tanyakan kepada anda yang membaca tulisan ini.

Mari menghitung persepsi usia teman-teman sekalian. Caranya adalah dengan menjawab dua pertanyaan di bawah ini :

Yang pertama, bagaimana persepsi anda tentang orang umur 10 tahun? Kemudian bagaimana jika dibandingkan dengan orang umur 25 tahun?

Kemudian pertanyaan kedua, bagaimana persepsi anda tentang orang umur 60 tahun? Kemudian, badingkan ia dengan orang umur 75 tahun.

Sudah?

 

Benar atau tidak, tapi biasanya jawaban ini yang muncul.

Ketika kita diminta membandingkan persepsi kita atas orang usia 10 tahun dan 25 tahun, yang muncul mungkin seperti ini ; 10 tahun : ceria, bermain, aktif. 25 tahun : dewasa, bekerja, mulai punya masalah. Artinya, antara 10 dan 25 tahun terdapat perbedaan yang sangat besar dalam hal perasaan, kedewasaan, kegiatan, dan lain sebaiknya.

Lalu, ketika diminta membandingkan persepsi atas orang usia 60 tahun dan 75 tahun, yang muncul mungkin ; 60 tahun : tua, uban, pensiun. 75 tahun : tua, uban, pensiun. Bayangan kita, usia 60 dan 75 tahun mungkin ya sama saja. Tua, beruban, pensiun, hidup tenang, dan lain sebagainya.

Padahal, dua pertanyaan di atas mencoba membandingkan dua usia dengan jarak usia yang sama : 15 tahun. Tapi mengapa hasilnya cukup berbeda ya? Mengapa ya? jawab sendiri ya….kan itu persepsi saja :p


RESOLUSI APRIL : MENULIS KEMBALI, SETELAH MEMBACA

April 27, 2012

Buahaha…..setahun lebih vakum menulis…tak tau apakah jari-jemari ini masih cukup tajam untuk merobek-robek selaksa pikiran, dan menuangkannya dalam baris demi baris tulisan. Namun hari ini, tekad itu sudah bulat. Saya akan mencoba menulis kembali, panjang atau pendek, dibaca atau dilupakan, bermutu maupun sampah, konsisten maupun putus sambung. Bismillah, saya benar-benar memohon pada Allah kali ini, untuk memberi saya kekuatan, untuk menuangkan isi pikiran kedalam pensive online dan men-defrag ruang otak agar tak melulu terisi hal-hal naïf, kotor dan menjemukan. Doa saya cuma satu, semoga saya bisa terus menulis dan KONSISTEN.

Semangat menulis itu kembali muncul segera setelah Februari lalu saya sempat didapuk menjadi moderator bedah buku Notes From Qatar 2 (Muhammad Assad; 2012). Menjadi moderator, mau tak mau saya harus belajar, alias membuka larik-larik tulisan Assad, mengerti alurnya, memahami ceritanya dan memaknai artinya. Yang saya lakukan itu semata usaha agar saya tak mempermalukan diri sendiri ketika bicara di atas pentas nanti, serta untuk menyeimbangkan kualitas omongan saya yang biasanya sampah, supaya setara dengan sang narasumber yang namanya cukup kondang itu.

Terlepas bahwa saya batal menjadi moderator karena acara diundur pelaksanaannya dan bentrok dengan jadwal saya yang lain, sejenak waktu yang saya luangkan dalam kontempelasi bersama buku Notes From Qatar telah memberi saya pencerahan. Singkatnya saya mengambil nilai bahwa hidup itu adalah soal berbagi, karena dengan berbagi itu pula lah, seseorang bisa memperoleh satu hal yang besar. Live is to give and to gain. Sedekah, zakat, atau apapun itu, yang penting berbagi. Dari situlah saya merasa mungkin perlu membagi : membagi pikiran saya meski tak ada yang menerima, meski tak ada yang meminta. Harapan saya cuma satu: menulis, ada yang membaca, ada yang seneng, tertarik, berkaca-kaca, lalu akhirnya mendoakan saya masuk surga. Oh, indahnya dunia.

Dulu, saya sempat memang aktif membagi sampah-sampah tulisan saya di Facebook dan WordPress, namun mendadak mengalami stagnasi karena factor yang setelah dicari-cari, timbulnya ya dari diri saya sendiri. Males lah, enakan nonton TV lah, game belum semuanya di mainin lah, bla bla bla. Dalam kondisi berkecukupan saya saat ini memang yang namanya terbuai dalam kenikmatan hiburan digital itu tak dapat dihindarkan. Nah sekarang ini, saya sih pinginnya simple : tetep bisa nulis sambil menikmati hiburan-hiburan di atas. Yes, saya memang tamak. :D Apalagi pacar juga rutin teriakin saya untuk bisa nulis lagi. Ok, Her Majesty’s wish is my command :)

Tulisan ini menjadi pembuka semangat baru saya. Resolusi April kalau mau saya sebut kerennya. Terima kasih atas semangatnya Mbak Pacar dan Bung Assad. Walaupun saya tak mengenal Bung secara personal, tapi buku anda telah membantu saya memulaui tulisan ini.

Mari menulis. Mari berbagi.


Kontempelasi 80-an

March 29, 2009

Saya sedang mengalami kemunduran. Entah. Ada sesuatu yang jauh berbeda dari dulu dan sekarang. Ada banyak sisi diri yang hilang, berubah, rapuh dan tak terarah. Ada berbagai kemampuan yang lenyap dan kemudian tak tergantikan oleh kemampuan lain yang lebih penting. Ada sekian banyak pengalaman yang saya rasa sia sia, dan ada banyak peluang yang saya rasa telah terlewatkan. Ada perasaan stagnasi, yang membuat saya harus berpikir, berpikir dan berpikir bagaimana untuk lepas dari stagnasi ini, namun sayangnya, waktu saya terbuang hanya untuk memikirkannya, tanpa aksi dan reaksi, memperpanjang stagnasi.

Intinya, kehidupan telah memaksa saya untuk berpikir, dan menghilangkan berbagai hal yang kiranya akan jadi beban dalam melangkah. Namun, menghilangkan beban itu sangat sulit, ternyata tak semudah membuang barang bawaan hanya karena bagasi pesawat sudah tak muat. Menghilangkan beban ini adalah pilihan ya dan tidak untuk selamanya. Maka ketika keputusan terambil, kesiapan atas konsekuensi harus dihadapi. Kehidupan telah menggerus saya. Ada banyak hal yang lalu saya percayai menjadi factor yang membuat saya mundur dan tergerus kehidupan. Bisa jadi inkonsistensi. Kini saya terjerumus pada dunia yang sebenarnya telah saya tinggalkan dari dulu, dan saya kembali lagi, mengawali dari nol besar. Sementara hal yang sudah benar-benar saya masuki kini seakan menghilang pergi.

Inkonsistensi ini membawa saya pada pilihan pilihan aneh yang semuanya menguntungkan dan menggiurkan. Tapi kadang saya terlalu sombong. Saya selalu memilih suatu pilihan yang lebih jauh dan jauh lebih. Pilihan yang butuh waktu, usaha, doa dan pengorbanan untuk bisa mencapainya. Sementara pilihan lain yang lebih bisa dicapai justru saya lepaskan. Lagi lagi hilang. Karena kesombongan saya, beberapa kali saya gagal dalam jarak yang tinggal 5cm, dalam jarak yang terlalu dekat untuk mundur, tapi terlalu jauh untuk dicapai. Mungkin saya memang hanya dilahirkan untuk bermimpi, bukan untuk mewujudkannya, sementara saya selalu melihat orang lain yang tanpa mimpipun bisa mencapai hal hal terbaik bagi kehidupannya: let it flow adalah kata kunci orang-orang itu. Sungguh hebatnya, mereka mengalir dalam air yang deras tapi tenang, kencang tapi dangkal, tinggal mengikutinya, lalu akan membawa mereka dari hulu ke hilir dengan cepat.

Beberapa saat kemudian saya berkontempelasi. Mencoba memikirkan apa yang dikatakan Atik CB sebagai “hidup ini hanya satu kali” dan apa yang masih dipertanyakan Chaserio hingga kini “pemuda, kemana langkahmu menuju?”. Dan ketika saya harus menulis lirik kehidupan saya sendiri, maka ia akan berbunyi “benarkah langkahku ini seirama dengan optimismeku, atau langkah ini terlalu jauh, tak terarah dan justru tak realistis”. Mungkin Chandra Darusman memang menulis lagu Pemuda itu untuk saya, dan Atik CB tahu apa yang dibutuhkan untuk memenuhi apa yang diinginkan Chandra : optimisme.

Optimisme di tengah kemunduran dan inkonsistensi sebenarnya adalah pilihan yang terbaik. Saya percaya hukum fisika masih bekerja. Meskipun kini saya mengalami kemunduran, dalam fisika, mundur adalah sebuah pergerakan, percepatan dan ada gaya disitu. Maka kemunduran ini saya ambil sebagai sebuah langkah baru untuk memulai percepatan yang lebih hebat. Ketimbang saya cuma berada di gigi nol tanpa beranjak: lebih menyiksa, tak ada perubahan dan tak berkembang. Mundur adalah maju yang menghadap belakang.

Dengan dibantu seorang sahabat, saya telah menemukan akar permasalahan dalam kehidupan saya: insekuritas, yang membawa saya kepada inkonsistensi dan menjerumuskan saya pada kegalauan. Setidaknya pemetaan masalah saya kini lebih jelas. Mungkin yang sekarang harus saya temukan jawabannya adalah “Kemana langkahmu menuju?” Dengan masih memegang rasa tak aman dan kebingugan dengan pilihan, saya yakin saya harus tetap melangkah.

Bagi saya, pencarian alur hidup saya takkan berhenti di meja kantor, atau selesai hanya dengan mencurahkan hidup saya pada pekerjaan. Ada banyak sisi kedirian saya yang harus muncul, ada aktualisasi diri yang harus terpenuhi, dan ada mimpi yang saya yakin masih bisa tercapai, meskipun saya harus berenang dalam arus yang cepat, dalam dan bisa membuat saya kandas. Saya yakin, masih ada pelampung yang bisa membantu saya berenang.

Kata teman saya: kesempatan tak hanya datang sekali, tapi dua kali tiga kali dan ribuan kali. Maka mereka yang mengatakan kesempatan hanya datang sekali, bagi saya hanyalah orang-orang yang terbuai pesimisme. Mereka pasti tak pernah mendengarkan Atik CB.


Yang Ini Benar-Benar Baya

March 29, 2009

Sepulang dari negeri orang, penerbangan GA206 09.30 membawa saya dalam perjalanan ke kota asal. Seat 16A dekat jendela sudah lama saya idamkan: bisa melihat pulau seribu, awan, dan ambarukmo plaza dari ketinggian. Namun kenyataan itu ternyata masih kurang menarik ketimbang kesimpulan sebuah perbincangan dua orang “baya” di seat 16B dan 16C, yang dengan tangkasnya berhasil saya “kuping”. Keduanya beretnis Tiong Hua, pakaian mereka menunjukkan jabatan top level management, umur mereka 50an saya tangkap dari warna rambut dan gaya bicara. Satu dari mereka bagi saya lebih mirip Ashadi Siregar yang dikuruskan, sementara yang satu nampak seperti HoKian dari Medan.

Ibarat sebuah iklan, maka dalam perbincangan itu, saya adalah target audience yang tepat. Mereka membincangkan dua hal. Pertama adalah tentang anak mereka,yang mungkin seumur saya jika dikira-kira. Kedua tentang kepegawaian dalam perusahaan besar yang mereka pimpin. Bagi saya, dua perbincangan itu menjadi menarik karena saya berada dalam kedua kriteria di atas: saya pemuda seumuran anak mereka dan saya juga pegawai. Koor dari perbincangan adalah tentang generasi penerus, dalam keluarga dan perusahaan.

Untuk topik pertama, keduanya bersatu pendapat tentang anak mereka yang ignorance, acuh, tak menghargai orang tua dan lain sebagainya. Cerita tentang bagaimana anak mereka lebih banyak memberontak dan “ngeyel” ketimbang menurut menjadi arah pembicaraan. Dan di akhir, si Ho Kian Medan berkata, “kita bekerja keras dengan ekspektasi anak kita akan bisa belajar banyak, bisa keluar negeri, bisa punya tabungan yang cukup untuk meneruskan generasi keluarga ini”. Saya tak mengeneralisir, tapi bisa jadi itulah yang diinginkan dan dilakukan orang tua: bekerja keras untuk masa depan anak yang lebih banyak menyakiti orang tua. Tafsir pragmatis saya lagi-lagi muncul: apakah itu yang juga saya lakukan pada orang tua saya? apakah mereka juga membincangkan saya yang bandel minta ampun bila bertemu dengan teman sebayanya? kontan, ada perasaan bersalah yang jadi renungan. Tak pernah pulang, tak memberi kabar, tiba-tiba muncul dengan berita penting tapi tak mereka restui, dan lain sebagainya. Saya pikir, mereka pasti mahir dalam periklanan: menyampaikan pesan pada target yang tepat dengan titik kontak yang sangat pas.

Kisah kepegawaian kemudian menyeruak dengan permulaan “kita harus memperlakukan pegawai seperti anak kita, karena mereka yang akan menjamin perusahaan ini bertahan dari generasi ke generasi”. Wow. Seorang yang tampak seperti bos memikirkan nasib pegawainya, sementara kadang kita sebagai pegawai bekerja asal-asalan hanya untuk memenuhi kuota SOP dan absen. Si bos pusing memikirkan pegawainya yang satu persatu korupsi sembari sport jantung ketakutan nama mereka muncul dalam daftar orang yang terlibat kasus. Si bos pusing memikirkan ratusan orang yang akan di PHK jika bisnis tak berjalan mulus. Dan si bos juga masih pusing memikirkan anak mereka yang ignorance. Ini adalah kondisi ideal, karena kenyataannya lebih banyak bos yang ingkar dan ignorance terhadap pegawai dan anak mereka.

Keduanya sedang menggelisahkan siapa yang akan meneruskan keluarga dan bisnis mereka. Tapi tampaknya tak ada harapan.

Yah, Jakarta-Jogja menjadi panjang dan lama. Penerbangan ini tiba-tiba asik ketika mendengar orang-orang tua berkeluh kesah tentang pekerjaan dan anak-anaknya, sementara anak-anak mereka mungkin sedang menikmati “liburan gratis tanpa tanggungan” seperti yang usai saya lakukan.Padahal orang-orang itu sudah kaya,dan bahkan tujuan mereka kaya adalah untuk membuat anak mereka menjadi “membanggakan”. Namun sayangnya, sepertinya tujuan kekayaan itu kandas ketika usaha tak dibarengi kesadaran bahwa anak juga manusia yang punya otak untuk tak tunduk pada uang, tunduk sepenuhnya, atau setengah tunduk setengah berontak.

Saya jadi ingat slogan Citi Bank: live richly. City Bank menyasar produk mereka pada kalangan pencari keseimbangan: orang yang tak hanya mengincar materi, tapi juga kebahagiaan hidup yang tak bisa ditutup dengan Rupiah, Dollar, Bath, Ringgit atau Euro. Mungkin kedua orang itu sudah kaya, tapi mereka belum “live richly”. Ingin rasanya saya bergabung menjadi nasabah Citi Bank.


Half Old Frenzy

March 29, 2009

Ini adalah sebuah lagu yg kutulis beberapa hari yang lalu. Terinspirasi oleh seorang teman yg mulai menginjak usia dewasa dan khawatir krn beberapa hal: bukan karir, bukan uang, tapi lebih ke menjadi dirinya dan menjadi manusia standard tanpa atribut status dan pekerjaan.Mengkhawatirkan ketidakmampuannya membenarkan genteng,membayar pajak dan hal domestik yg merepotkan ketika sudah berumah tangga.Kupublish liriknya karena kupikir cukup menarik buat jadi renungan bersama. Hehehehe…Narsis Mode :ON Didedikasikan buat pria-pria yg hampir menjajaki fase kehidupan selanjutnya… tapi yang cewek juga harus baca.. Monggo….

HALF OLD FRENZY

It’s easy to pretend that life is simple Just like a drink or two, or make it triple

No harder than riding a horse Nothing to fear, nothing lost

And life just goes on like a racing Porsche

I’ve never thought of paying up some taxes

Never understand how to fix fences

Then when I reach my thirty I start to feel an empty

That life is not that easy, That life is not that easy as we thought

It’s more than hanging up with all friends in the gang

Now I’ve got to think saving money in the bank

Preparing all my wedding

More jobs to do still waiting

To cover the expenses, to make sure I can survive in this life

Thirty start committing a vow

Ages flowing like the wind blows

Though my children hasn’t been born

Damn…I can no more enjoy some porn

Yes I may never try to fixing any fence

Never know how to put some nails on the bench

But though I always wandering around

That doesn’t mean I’m not ready standing on this ground

It’s nice to know I wasn’t joining the army

That I can still enjoy my day watching the movie

And nice to know that someone is still loving me

Sharing the empathy giving me energy

Hey tell me how to play a game called UNO

I bet I’ll win, thirty something never know

Yes I’m glad I always enjoy my young day

Though life is hard, though it never be easy

But it’s better than seeing my joy flying away

Now time to pretend that life is easy

And try to guess what you’re about to see

Forget the thirty forget what scared you the most

Cause life is easy if you just think it was

Aditya Wira – A song of “for whom,to what band,and who’s to play, I never know” Written in a safe & sound brain


Alasan Untuk Nongkrong di tempat tak ber-Wifi

March 29, 2009

Diambil dari kompas.com Beberapa waktu lalu muncul laporan mengenai tanda-tanda orang kecanduan Facebook atau situs jejaring sosial lainnya, misalnya Anda mengubah status lebih dari dua kali sehari dan rajin mengomentari perubahan status teman. Anda juga rajin membaca profil teman lebih dari dua kali sehari meski ia tidak mengirimkan pesan atau men-tag Anda di fotonya. Laporan terbaru dari The Daily Mail menyebutkan, kecanduan situs jejaring sosial seperti Facebook atau MySpace juga bisa membahayakan kesehatan karena memicu orang untuk mengisolasikan diri. Meningkatnya pengisolasian diri dapat mengubah cara kerja gen, membingungkan respons kekebalan, level hormon, fungsi urat nadi, dan merusak performa mental. Hal ini memang bertolak belakang dengan tujuan dibentuknya situs-situs jejaring sosial, di mana pengguna diiming-imingi untuk dapat menemukan teman-teman lama atau berkomentar mengenai apa yang sedang terjadi pada rekan Anda saat ini. Suatu hubungan mulai menjadi kering ketika para individunya tak lagi menghadiri social gathering, menghindari pertemuan dengan teman-teman atau keluarga, dan lebih memilih berlama-lama menatap komputer (atau ponsel). Ketika akhirnya berinteraksi dengan rekan-rekan, mereka menjadi gelisah karena “berpisah” dari komputernya. www.kompas.com 02/03/2009 ada yang merasa demikian? besok kalo kita nongkrong mending di tempat yang ga pake wifi, terus HP semuanya dikumpulin yah….


“Yin dan Yang” yang termodifikasi

February 5, 2009

Semalam, tanpa sengaja, terjadi perbincangan menarik dengan seorang teman yang sedang gundah karena suatu perkara. Agak berat dia untuk melepaskan sesuatu dari hidupnya, dan lalu mencari sebuah kebaruan yang sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Saran saya cukup mudah, pelajari prinsip keseimbangan dan kesetaraan. Yah lagi-lagi saya berulah dengan memberikan filosofi yang saya sendiri tak bisa praktekan, tapi setidaknya, saya bisa omong-omong tentang konsep yang siapa tau bisa membantunya mencari solusi. Sayangnya, semalam itu saya harus istirahat agak pagi karena keesokan paginya saya harus bertemu dengan air di kolam alias berenang, jadi sempat tak sempat, terpaksa filosofi yang harusnya saya paparkan itu lewat begitu saja. Untuk menebus kesalahan semalam, sepertinya, akan sangat berharga kalau saya bisa membagi pemikiran saya ini di sini.

Yin dan Yang. Ini adalah konsep lama asal China yang kita kenal lewat film-film Bo Bo Ho. Konsep ini mengajarkan kita tentang opposite atau perlawanan dan complementary atau saling melengkapi. Awalnya, saya sangat tertarik dengan konsep itu, dan mengafirmasi semuanya. Namun, pada suatu ketika, saya merasa konsep ini masih kurang lengkap, karena ia hanya mengajarkan hitam dan putih, baik dan buruk, dan dua hal yang saling bertentangan namun saling melengkapi. Maka, saya coba berpikir ulang untuk memodifikasi konsep ini sesuai alam bawah sadar saya.

Perenungan saya membawa saya pada sebuah kesimpulan, bahwa dalam kehidupan, tak butuh keseimbangan saja, tapi juga kesetaraan. Keseimbangan yang saya maksud di sini adalah sama dengan complementary opposite milik Yin Yang, bertolak belakang namun saling melengkapi. Maka, ketika diimplementasikan dalam kehidupan kita, kita akan menemukan baik buruk, kaya miskin, pintar bodoh tinggi rendah, terang gelap, dan lain sebagainya. Poin yang perlu diingat adalah tentang kebertolakbelakangan.

Lalu tentang kesetaraan, saya mempercayai ini sebagai hak setiap manusia dalam mengatur alamnya supaya ia bisa mencapai sesuatu yang menjadi standar bagi kehidupan manusia. Maka, berbeda dengan keseimbangan, dalam kesetaraaan tak ada complementary opposite, tapi yang ada adalah equality, misalnya baik dengan baik, pintar dengan pintar, pendek dengan pendek, kuat dengan kuat, dan lain sebagainya.

Kenapa pemikiran seperti ini muncul adalah karena saya berpikir bahwa konsep Yin Yang tak selamanya bisa diaplikasikan dalam kehidupan manusia seutuhnya. Ada beberapa hal yang menuntut lebih dari sekadar keseimbangan, tapi juga kesetaraan, dan dalam konteks obrolan dengan teman saya ini, konteks tersebut adalah romance.

Ya, jadi arahnya adalah bahwa ketika manusia itu diciptakan berpasangan, maka akan seperti apakah pasangan kita itu. Kalau kita menganut konsep Yin Yang dengan terlalu fanatic, maka saya bisa menyimpulkan bahwa orang berhidung besar yang pintar tapi berkelakuan jahat akan mempunyai pasangan orang berhidung kecil yang agak bodoh namun sangat baik hati. Atau, orang berkulit putih dengan kemapuan olah raga pas-pasan akan mempunyai pasangan berkulit gelap yang jagoan olah raga. Wah, tidak begitu, Yin Yang pun saya yakin tak sepragmatis ini, namun penilaian akan keseimbangan dan saling melengkapi itulah yang membuat Yin Yang jadi terlihat sepele.

Namun akan berbeda, ketika kita coba masukkan unsur kesetaraan di situ. Misalnya, orang pintar, berhak mendapat pasangan yang juga pintar, orang baik berhak mendapat pasangan yang baik, dan orang jahat juga berhak mendapat pasangan yang jahat. Karena kesetaraan itu hal seperti ini sangat mungkin terjadi. Tapi, saya ingatkan, kita juga tak bisa sepragmatis ini dalam menilai kehidupan. Oleh karenanya, selayaknya Yin dan Yang yang tak bisa dipisahkan, keseimbangan dan kesetaraan adalah dua hal yang harus seimbang dan setara, yang ketika satu komponen lepas maka komponen yang lain akan kesulitan untuk menyesuaikan keadaan.

Petuah yang saya coba ambil dari sini adalah bahwa dalam kehidupan ini, terutama tentang pasangan, kita berhak mencari seseorang yang ideal menurut kita, tapi juga kita pahami bahwa manusia memiliki latar belakangan dan bentukannya masing-masing. Mencari seseorang yang ideal bagi saya adalah dengan menentukan porsi yang baik antara keseimbangan dan kesetaraan saya dengan si calon pasangan.

Hidup itu seimbang dan setara. Mari saling melengkapi, saling mengisi, dan saling menyesuaikan posisi.

Ah saya ini cuma bisa ngomong…jangan dipercaya…


Presiden Indonesia sudah terpilih – Megawati dan Pencarian Wapres

February 5, 2009

pemilu saja belum, bagaimana sudah terpilih??
nyatanya…sekarang memang sudah, dan sang presiden, sekarang sedang mencari wakilnya…

maaf, tulisan ini mungkin akan menyinggung Bu Mega dan PDI-P, tapi saya yakin, beliau adalah seorang penerus demokrasi yang tak mungkin marah gara-gara menbaca anak muda autis yang belum bisa melipat baju sendiri…

jadi begini…ini opini subjektif saya tentang bagaimana megawati melakukan komunikasi politik dengan sangat dahsyat…

1. jika calon parpol lain bertarung di Iklan pendek 30-60 detik, maka Megawati memilih jalan alternatif dengan melakukan blocking time di sejumlah talkshow terkemuka seperti Kick Andy, Barometer SCTV, di AnTV (saya lupa judul nya), dan masih banyak lagi…eksplorasi terhadap dirinya bisa menjadi sangat luas dan dalam…tapi hati-hati bahwa kedalaman itu bisa menjadi jurang yang menjerumuskan..terutama jika ditemukan bahwa muatan talkshownya kurang berbobot…

2. kader PDI P adalah kader yang sangat aktif menggunakan sosok megawati sebagai “tokoh referensi”..misalnya, mayoritas caleg PDI P menggunakan foto megawati sebagai background dalam balihonya..tokoh lain yang mengalami nasib serupa adalah SBY (sejauh ini cuma SBY dan Mega yang saya tau, kalau ada yang lain tolong ditambahkan..)..artinya, posisi Mega sudah cukup dikenal dan berpredikat sehingga layak dijadikan referensi..apa sebab: ada tiga…yang pertama adalah kapasitas dia sebagai politikus dan mantan presiden, yang kedua adalah karena berkah genetis sebagai putri proklamator, dan yang ketiga adalah karena terlalu lamanya dia bercokol di dunia politik, sehingga orang akan bilang “sapa sih yang ga kenal”…keuntungan buat Mega adalah…branding personal secara nasioanl hingga lokal, cukup dahsyat karena tokoh ini benar-benar didukung kadernya dari bawah..

3. Kritikan mega dengan selalu menganalogikan pemerintahan SBY dengan mainan anak-anak…yoyo, layangan, karambol…ah tidak..yang ini saya mengada-ada…tapi, ini adalah cara mega menunjukkan posisinya secara tegas..tak ada abu-abu dalam politiknya, kalau ia oposisi, maka ia adalah oposisi…ini akan lebih mudah diterima ketimbang politikus yang sekarang mendukung A, lalu besok B, lalu besok meninggal dunia karena dibunuh oleh pendukung C…kasihan..ketegasan ini kemudian ditunjukkan dalam setiap komunikasinya, yang kemudian menarik perhatian banyak media dan memberika ekspos berarti bagi dirinya…

4. ini yang paling dahsyat…Rakernas PDI P di blow up secara besar-besaran oleh media massa, dan agenda yang terus diangkat adalah tentang Mega yang sedang mencari Wapres..tokoh yang dicalonkan untuk jadi bakal calon juga tak tanggung tanggung…Prabowo, Sri Sultan, dkk, dan semuanya mempunyai posisi penting baik di partai maupun secara politis…ini tidak sekadar pencalonan tak beralasan…mega ingin mengambil posisi bagus dengan menggaet politikus papan atas…tapi apa berakhir di situ saja…tidak..ada sebuah agenda komunikasi politik di sini….

media memberitakan mega yang sedang cari wakil, dengan calon yang sangat kredibel…ini adalah sebuah usaha untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa secara politis mega masih lebih bermutu dan berada di atas politikus politikus lain yang baginya cuma layak dijadikan wakil presiden…

sungguh, ini komunikasi yang menurut saya sangat bagus, terutama jika ditargetkan ke masyarakat awam yang masih menjadikan mega sebagai salah satu founding mother reformasi..masyarakat seakan sedang ditunjukkan fakta terkonstruksi bahwa Mega adalah presiden, sudah terpilih, dan memiliki kriteria seorang presiden…mencuri start, tapi berada di level tak melanggar dan sangat aman…toh yang dipublish adalah Rakernasnya…tapi, di sini terlihat benar bahwa Mega memposisikan seolah-olah presiden RI telah terpilih..bahwa, yang sekarang perlu di cari adalah wakil presiden, yang dilakukan melalui mekanisme pemilu 2009…

saya bukan pendukung Mega, atau mungkin saya akan mendukung jika memang ada platform yang bagus dari dirinya..sejauh ini, saya kurang menikmati setiap talkshow yang menghadirkan dirinya..banyak yang masih cetek dan tak substansial…tapi saya cukup kagum dengan konsistensi nya berkomunikasi, agenda setting yang dia ciptakan, personal branding, dan masih banyak bentuk komunikasi yang memberinya banyak keuntungan sebagai capres…atau presiden yang sedang mencari cawapres…mari kita lihat besok saja…


cobalah kalahkan dirimu sendiri

February 5, 2009

ini adalah sebuah cerita yang agak aneh, penuh keautisan, dan sedikit egois tak beralasan…

ceritanya, saya sedang mengalami kebosanan yang amat sangat…sebuah pekerjaan mengharuskan saya untuk standby di Mall ter”yoi” di Jogjakarta dari jam 14.00 – 20.00 untuk memonitor pekerjaan beberapa rekan yang sedang bertugas..yang saya lakukan sebenarnya sangat sederhana…duduk di sedikit kejauhan, melihat orang berlalu lalang, melihat peluang atau berimprovisasi…intinya, pekerjaan saya cuma duduk dan menyuruh…enak to??? tapi ternyata tidak…

beberapa jam berselang, ketika sistem sudah mulai tertata, orang-orang sudah mulai tertib dengan aturannya sendiri, pekerjaan saya pun memudar…kini, pekerjaan saya menjadi lebih mudah: benar-benar hanya duduk…enak sekali…

tapi tak lama, serangan kebosanan datang menghantui saya…alkisah, laptop saya yang sedang beruntung itu menjadi katarsis saya, surfing sana sini, facebook kesana kemari, dan hal asik lainnya di dunia maya…tapi, lagi-lagi, dunia maya itu ternyata terbatas, walaupun katanya ia tak punya batas…dan batasnya ternyata adalah kebosanan saya sekali lagi….

saya pun memutar otak untuk mencari hal lain yang bisa saya lakukan untuk membunuh kebosanan…tercetuslah sebuah ide tak masuk akal: bermain XOX (permainan 9 kotak, tujuannya adalah membentuk kombinasi lurus dari simbol X dan O) sendirian..ya sendirian..harusnya permainan ini dilakukan dengan lawan…tapi di sini saya memutuskan untuk membelah diri..diri yang satu menjadi X dan diri yang lain menjadi O…dan kami pun bertarung..saya dan diri saya…mencoba saling mengalahkan..

autisme pun terjadi…entah kenapa saya sangat menikmati bertarung sendiri…mencoba mengalahkan satu bagian dari diri saya, yang sebenarnya diatur oleh otak yang sama…saya puas ketika si X menang, dan kecewa ketika tak ada yang menang, atau si O menang…entah, ini seperti saya punya dua kepribadian…begitulah mungkin…tapi yang kemudian memberi saya sedikit pelajaran adalah bahwa mengalahkan diri sendiri itu sangat susah…

taukah bahwa saya perlu bertarung selama 9 kali permainan sebelum betul-betul membuat si X menang dan si O kalah..sebelumnya, pertarungan berlangsung seri atau si X kalah..baru kali kesembilan saya merasa mendapat keberuntungan..

“wah..cobalah lihat dirimu..cari siapa orang yang ada di balik dirimu..atau mungkin orang yang sama-sama hidup dalam otakmu, atau orang yang tak kausadari selama ini ternyata telah mengontrol 90% kehidupanmu tanpa kau sadar bahwa dirimu sedang dibelenggu”…begitulah percakapan saya dengan si X…si X ini adalah saya yang hidup dalam otak saya…sementara si O adalah orang lain yang bersarang dalam pikiran saya…pertarungan ini adalah pertarungan jati diri, mencoba menunjukkan siapa kita sebenarnya dengan menekan si dominan yang selama ini meracuni otak kita…

ah..saya ini bilang apa…
si O baru kalah dalam permainan XOX…tapi mungkin saya belum bisa mengalahkannya di dunia nyata..
setidaknya, sekarang saya sadar bahwa dalam diri saya ada orang lain yang bukan saya..dan ketika saya sadar, maka akan lebih mudah bagi saya untuk mengalahkannya…sungguh, senangnya bisa mengalahkan diri sendiri…


rokok = golput = haram

February 5, 2009

Kabarnya sudah agak usang. Mulai beberapa hari lalu, sudah diputuskan bahwa merokok itu haram, untuk beberapa kondisi, dan juga bahwa golput juga haram, untuk kondisi apapun.

Yang pertama saya sangat sorak sorai bergembira karena memang begitulah seharusnya. Manusia terlahir tanpa kondisi yang mengharuskannya merokok, jadi sebenarnya fatwa yang baru ini cuma sekadar menegaskan dan mengembalikan manusia ke kodrat yang sewajarnya. Pasti setelah ini akan banyak keluh kesah, protes, atau hujatan, ke MUI, dari pabrik rokok, ke tulisan ini, dari para perokok. Yah, kalau bisa menunjukkan argument dengan data yang valid bahwa merokok itu baik (atau lebih banyak baiknya daripada buruknya), mungkin saya baru akan mengalah.

Isu yang pertama, saya sangat mengamini, karena sebagai seorang yang tidak merokok, sudah cukup rasanya saya kalah dalam setiap perdebatan dengan orang-orang yang merokok di sekitar saya. Enam dari tujuh orang dalam satu ruangan itu rupanya merokok, dan saya kalah telak secara jumlah. Ah, menyedihkan sekali, rasanya seperti ditampar Yahudi. Tapi sekarang sudah bukan urusan jumlah lagi. Konteks jumlah itu kini diganti menjadi konteks teritori: berapapun jumlahnya, merokok di ruang public adalah dosa. Jadi, biarpun dihadapan saya adalah jamaah perokok, saya tidak perlu ragu untuk berdebat karena sudah ada dasar yang cukup bagi saya untuk membela diri. Tapi tenang, saya masih menghargai kompromi, bukan berarti setiap ketemu saya lalu saya meminta perdebatan. Tidak….saya cinta damai…

Cukup dengan yang pertama, mari kita koprek yang kedua. Nah, yang ini saya agak ketawa sekaligus kecewa. Saya ketawa ketika membayangkan bagaimana besok neraka akan dipenuhi orang-orang yang keras, idealis dan ideologis, sangat filosofis dan menghendaki transparansi. Yang saya sebutkan itu ciri orang golput secara ideologis, menurut saya. Mereka memilih untuk tidak memilih, ketimbang harus menggadaikan ideologinya pada partai, caleg, atau presiden yang kapasitasnya belum layak. Saya yakin, kalau orang-orang seperti ini memenuhi neraka, neraka akan geger, demonstrasi setiap hari, transparansi jumlah dosa diminta, pertanggungjawaban jika terjadi hukuman di atas rata-rata akan dipertanyakan, lalu mereka akan meminta remisi dan grasi agar segera dipindahkan ke surga.

Tadi saya bilang saya kecewa. Sangat. Saya cuma khawatir, di pemilu mendatang, banyak orang yang akan memilih karena keterpaksaan, ketidaktahuan, serta ke-Yang penting milih-an. Kalau seperti ini jadinya, pemilu akan menjadi sangat tak terprediksi. Golput dan Swing voter bukan lagi sebuah ancaman buat parpol, caleg, capres, tim sukses, investor, dll. Tapi yang perlu dikhawatirkan adalah GOLnGUNG….alias GOLONGAN BINGUNG….ini adalah orang-orang yang “yang penting milih” tadi. Biar nggak dosa, biar nggak masuk neraka. Weleh weleh…golngung ini adalah kombinasi dari swing voter dan golput, atau bisa dibilang swing voternya golput.

Ada tiga tipe golngung, hampir sama seperti golput sebenarnya: golngung ideologis, golngung karena tidak tau, dan golngung administratif. Buat para golngung ideologis, bisa-bisa, golngung model ini benar-benar akan memenangkan calon yang sangat tidak kredibel, lantaran mereka sudah tidak percaya dengan “calon-calon yang lumayan kredibel namun sudah terlalu lama bercokol di panggung politik Indonesia sehingga borok-boroknya semuanya sudah ketahuan”. Nah, golngung karena awam masalah politik, sedikit banyak akan menguntungkan orang-orang yang punya nama, yang sudah duluan besar ketimbang calon yang lain. Dan golngung administratif inilah yang paling kasihan, mereka harus menanggung dosa gara-gara kesalahan pak Lurah mendata warganya, atau gara-gara KTPnya terendam bersama baju kotor, dan penyebab lain yang tidak substansial. Akhirnya mereka benar-benar bingung, kalau mau ikut milih nggak bias, kalau nggak milih dosa. Mungkin nanti nasibnya di akhirat seperti orang gila, terombang-ambing di antara surga dan neraka.

Apapun lah…yang jelas, kalau memang saya pikir belum ada pemimpin yang cukup mumpuni, saya lebih baik berdosa daripada harus memilih karena terpaksa. Bukankah agama juga memberikan banyak keringanan bagi manusia di dunia ini. Kalau tidak ada air wudhu, bisa diganti tayamum, kalau tak bisa berpuasa, bisa diganti berzakat. Nah , dalam konteks ini saya memilih: kalau tak bisa berkontribusi dengan cara memilih, saya akan berkontribusi dengan cara yang lain. Bukankah begitu tujuan awal diharamkannya golput ini: agar semua berkontribusi. Kontribusi kok terpaksa, sama saja memasukkan amplop kosong tak berduit dalam kotak amal masjid: yang penting kan udah masukin amplop….

O ya…lalu, kalau memilih itu hukumnya wajib, lalu bagaimana kewajiban orang atau pihak yang dipilih? Wah, udah bukan wajib lagi itu, tapi super duper wajib pake banget. Hayo capres, caleg, parpol, ati-ati masuk neraka lho….


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.