Saya sedang mengalami kemunduran. Entah. Ada sesuatu yang jauh berbeda dari dulu dan sekarang. Ada banyak sisi diri yang hilang, berubah, rapuh dan tak terarah. Ada berbagai kemampuan yang lenyap dan kemudian tak tergantikan oleh kemampuan lain yang lebih penting. Ada sekian banyak pengalaman yang saya rasa sia sia, dan ada banyak peluang yang saya rasa telah terlewatkan. Ada perasaan stagnasi, yang membuat saya harus berpikir, berpikir dan berpikir bagaimana untuk lepas dari stagnasi ini, namun sayangnya, waktu saya terbuang hanya untuk memikirkannya, tanpa aksi dan reaksi, memperpanjang stagnasi.
Intinya, kehidupan telah memaksa saya untuk berpikir, dan menghilangkan berbagai hal yang kiranya akan jadi beban dalam melangkah. Namun, menghilangkan beban itu sangat sulit, ternyata tak semudah membuang barang bawaan hanya karena bagasi pesawat sudah tak muat. Menghilangkan beban ini adalah pilihan ya dan tidak untuk selamanya. Maka ketika keputusan terambil, kesiapan atas konsekuensi harus dihadapi. Kehidupan telah menggerus saya. Ada banyak hal yang lalu saya percayai menjadi factor yang membuat saya mundur dan tergerus kehidupan. Bisa jadi inkonsistensi. Kini saya terjerumus pada dunia yang sebenarnya telah saya tinggalkan dari dulu, dan saya kembali lagi, mengawali dari nol besar. Sementara hal yang sudah benar-benar saya masuki kini seakan menghilang pergi.
Inkonsistensi ini membawa saya pada pilihan pilihan aneh yang semuanya menguntungkan dan menggiurkan. Tapi kadang saya terlalu sombong. Saya selalu memilih suatu pilihan yang lebih jauh dan jauh lebih. Pilihan yang butuh waktu, usaha, doa dan pengorbanan untuk bisa mencapainya. Sementara pilihan lain yang lebih bisa dicapai justru saya lepaskan. Lagi lagi hilang. Karena kesombongan saya, beberapa kali saya gagal dalam jarak yang tinggal 5cm, dalam jarak yang terlalu dekat untuk mundur, tapi terlalu jauh untuk dicapai. Mungkin saya memang hanya dilahirkan untuk bermimpi, bukan untuk mewujudkannya, sementara saya selalu melihat orang lain yang tanpa mimpipun bisa mencapai hal hal terbaik bagi kehidupannya: let it flow adalah kata kunci orang-orang itu. Sungguh hebatnya, mereka mengalir dalam air yang deras tapi tenang, kencang tapi dangkal, tinggal mengikutinya, lalu akan membawa mereka dari hulu ke hilir dengan cepat.
Beberapa saat kemudian saya berkontempelasi. Mencoba memikirkan apa yang dikatakan Atik CB sebagai “hidup ini hanya satu kali” dan apa yang masih dipertanyakan Chaserio hingga kini “pemuda, kemana langkahmu menuju?”. Dan ketika saya harus menulis lirik kehidupan saya sendiri, maka ia akan berbunyi “benarkah langkahku ini seirama dengan optimismeku, atau langkah ini terlalu jauh, tak terarah dan justru tak realistis”. Mungkin Chandra Darusman memang menulis lagu Pemuda itu untuk saya, dan Atik CB tahu apa yang dibutuhkan untuk memenuhi apa yang diinginkan Chandra : optimisme.
Optimisme di tengah kemunduran dan inkonsistensi sebenarnya adalah pilihan yang terbaik. Saya percaya hukum fisika masih bekerja. Meskipun kini saya mengalami kemunduran, dalam fisika, mundur adalah sebuah pergerakan, percepatan dan ada gaya disitu. Maka kemunduran ini saya ambil sebagai sebuah langkah baru untuk memulai percepatan yang lebih hebat. Ketimbang saya cuma berada di gigi nol tanpa beranjak: lebih menyiksa, tak ada perubahan dan tak berkembang. Mundur adalah maju yang menghadap belakang.
Dengan dibantu seorang sahabat, saya telah menemukan akar permasalahan dalam kehidupan saya: insekuritas, yang membawa saya kepada inkonsistensi dan menjerumuskan saya pada kegalauan. Setidaknya pemetaan masalah saya kini lebih jelas. Mungkin yang sekarang harus saya temukan jawabannya adalah “Kemana langkahmu menuju?” Dengan masih memegang rasa tak aman dan kebingugan dengan pilihan, saya yakin saya harus tetap melangkah.
Bagi saya, pencarian alur hidup saya takkan berhenti di meja kantor, atau selesai hanya dengan mencurahkan hidup saya pada pekerjaan. Ada banyak sisi kedirian saya yang harus muncul, ada aktualisasi diri yang harus terpenuhi, dan ada mimpi yang saya yakin masih bisa tercapai, meskipun saya harus berenang dalam arus yang cepat, dalam dan bisa membuat saya kandas. Saya yakin, masih ada pelampung yang bisa membantu saya berenang.
Kata teman saya: kesempatan tak hanya datang sekali, tapi dua kali tiga kali dan ribuan kali. Maka mereka yang mengatakan kesempatan hanya datang sekali, bagi saya hanyalah orang-orang yang terbuai pesimisme. Mereka pasti tak pernah mendengarkan Atik CB.
Posted by adityawiras
Posted by adityawiras
Posted by adityawiras