Akhir Maret, saya hadir melayat ayah atasan saya yang meninggal dunia. Ia adalah sosiolog terkemuka, Soelaeman Soemardi, yang usianya kalau tak salah sudah kepala 8. Di sela-sela suasana berkabung, saya cukup takjub mendapati bahwa sebelum berpulang, Pak Eman, panggilan akrab beliau, masih sempat menulis sebuah buku. Di usia senjanya, ia tetap produktif meski raut wajahnya (yang saya dapati di foto obituary) sudah tampak lelah dan penuh kerut.
Semangat Pak Eman untuk terus berkarya di satu sisi memotivasi, dan di sisi lain menggelitik pikiran saya, mendekonstruksi definisi kata ‘tua’, ‘sepuh’ hingga ‘uzur’. Kadang usia memang menjadi batasan, atau setidaknya pembenaran bagi seseorang untuk mulai mengerem aktifitas. Tapi bagi beberapa orang, menua-nya umur tak lain hanyalah metabolisme manusia biasa, yang justru semakin mematangkan pikiran untuk menghasilkan karya-karya yang lebih ciamik.
Sepanjang perjalanan pulang dari bilangan Pejaten sore itu, pikiran saya terbawa ke tahun 2005, saat saya dan rekan tengah mengerjakan tugas penulisan naskah film dokumenter untuk matakuliah sinematografi. Proposal naskah kami yang bertajuk “Keringat Usia Senja” mencoba mengangkat kisah para ‘senior’ yang penghujung usianya masih dialiri derasnya keringat untuk menghidupi keluarga. Objek kami bernama Pak Badi, seorang penambang pasir di Kali Krasak, Bantul, Jogjakarta.
Bagi kami, melihat Pak Badi menghabiskan kesehariannya mengarungi Kali Krasak, terpapar air sekaligus sinar terik matahari Jogja, adalah pemandangan yang cukup pilu. Di hari pertama riset lapangan, benak kami mempertanyakan “ini anak-anaknya kemana sih, kok bapaknya dibiarin kaya gitu”. Pikiran kami pragmatis saja, sudah tua ya istirahat, tak usah lah berlelah-lelah. Naluri kami mungkin terpengaruh reality show di TV yang tak jarang mengumbar kesusahpayahan orang tua, diiringi isak tangis dan soundtrack ‘You Rise Me Up’.
Hari berikutnya, kami beralih dari Kali Krasak ke Panti Jompo di wilayah Kauman Jogjakarta. Niat kami adalah mewawancarai kepala Panti Jompo dengan harapan ia akan mengamini postulat ‘orang tua = istirahat’ yang kami usung. Unfortunately fortunate, wawancara kami lancar, tapi dengan hasil yang sangat bertolak belakang dengan skenario yang sudah kami siapkan. Kepala Panti Jompo yang kami lupa namanya itu justru tegas menyatakan, “orang tua itu justru harus dikasih kegiatan, dikasih kerja, kalau nggak, ya beneran dia jadi tua’.
Argumentasi Pak Kepala Panti kami amini. Karena memang logikanya ya seperti itu. Saya dan kawan penulis naskah sadar bahwa kami lah yang salah. Kami mendatangi narasumber dengan agenda, dengan teori kami sendiri, dan mencari benang untuk mencocokkan teori kami dengan realita. Otak atik gathuk.
- – - – - – - – - – - – - – - – - -
Mobil Serena yang saya tumpangi sudah mencapai daerah Menteng saat memori saya sepenuhnya kembali ke masa kini, ketika kemudian saya nyeletuk dengan bodohnya di dalam mobil “tua itu apa ya?”. Dari yang saya ketahui tentang Pak Eman, dari Pak Badi yang masih menambang, bahkan dari ayah saya yang diusia 61 masih rajin angkat-angkat meubel dagangan, saya mendapati bahwa manusia menua adalah ketika berhenti beraktifitas. Sementara usia adalah bilangan yang sebagai patokan. Supaya gampang ngitungnya. Kiranya itulah postulat bodoh saya yang coba saya kemukakan.
Lalu saya melontarkan pertanyaan ke seorang teman, sebuah pop quiz yang rupanya cukup menggelitik pikirannya juga, dan sekarang akan saya tanyakan kepada anda yang membaca tulisan ini.
Mari menghitung persepsi usia teman-teman sekalian. Caranya adalah dengan menjawab dua pertanyaan di bawah ini :
Yang pertama, bagaimana persepsi anda tentang orang umur 10 tahun? Kemudian bagaimana jika dibandingkan dengan orang umur 25 tahun?
Kemudian pertanyaan kedua, bagaimana persepsi anda tentang orang umur 60 tahun? Kemudian, badingkan ia dengan orang umur 75 tahun.
Sudah?
Benar atau tidak, tapi biasanya jawaban ini yang muncul.
Ketika kita diminta membandingkan persepsi kita atas orang usia 10 tahun dan 25 tahun, yang muncul mungkin seperti ini ; 10 tahun : ceria, bermain, aktif. 25 tahun : dewasa, bekerja, mulai punya masalah. Artinya, antara 10 dan 25 tahun terdapat perbedaan yang sangat besar dalam hal perasaan, kedewasaan, kegiatan, dan lain sebaiknya.
Lalu, ketika diminta membandingkan persepsi atas orang usia 60 tahun dan 75 tahun, yang muncul mungkin ; 60 tahun : tua, uban, pensiun. 75 tahun : tua, uban, pensiun. Bayangan kita, usia 60 dan 75 tahun mungkin ya sama saja. Tua, beruban, pensiun, hidup tenang, dan lain sebagainya.
Padahal, dua pertanyaan di atas mencoba membandingkan dua usia dengan jarak usia yang sama : 15 tahun. Tapi mengapa hasilnya cukup berbeda ya? Mengapa ya? jawab sendiri ya….kan itu persepsi saja :p
Posted by adityawiras 